Asal Usul Festival Kue Bulan/ Zhong Qiu Jie

Asal Usul Festival Kue Bulan/ Zhong Qiu Jie

Asal Usul Festival kue bulan/ Zhong Qiu Jie

Di Negeri asalnya, Tiongkok, Moon Cake Festival atau perayaan kue bulan / festival kue bulan menjadi perayaan istimewa untuk menyambut musim gugur yang disebut Mid Autumn Festival.

Menurut Tradisi Rakyat Tiongkok, festival kue bulan ini dirayakan pada bulan Purnama (bulan penuh)  pada tanggal 15 bulan 8 (Imlek) yang tahun ini jatuh pada tanggal 1 Okober 2020.  

Biasanya anggota keluarga yang terpisah jauh dengan keluarga akan kembali berkumpul bersama seluruh keluarga besar  untuk menyantap kue bulan , oleh karena itu perayaan kue bulan ini menjadi hari raya  terbesar  kedua selain hari raya Imlek .

Saat ini tradisi festival kue bulan (Mid Autumn Festival) atau dalam bahasa mandarin Zhong Qiu Jie, sudah menyebar keseluruh penjuru  dunia dan dirayakan oleh seluruh penduduk keturunan Tionghoa bahkan yang ada di Indonesia.

Tradisi ini muncul pertama kali pada masa Dinasti Xia dan Dinasti Shang dan menurut cerita ternyata tradisi ini ada efek – efek ritualnya, yang mana ritual ini menjadi semakin popular ketika memasuki Dinasti Tang.

Ada banyak versi mengenai legenda Kue Tradisional Tionghoa ini, salah satunya yang terkenal adalah Legenda Hou Yi dan  Chang’e

Konon pada zaman dahulu, di langit terdapat 10 matahari,  Banyaknya matahari itu membuat bumi sangat panas sehingga  orang – orang menderita karena kekeringan dan kelaparan, padi – padi di ladang terpanggang hangus dan  binatang ganas dan ular berbisa merajalela kemana – mana.

Waktu itu , di bumi ada seorang pahlawan yang bernama Hou Yi. Pada suatu hari, Hou Yi yang pandai memanah menaiki gunung Kun Lund  dengan berani memanah jatuh Sembilan dari 10 matahari di Langit, dan memerintahkan satu matahari yang tersisa harus naik turun sesuai dengan jadwalnya.

Sejak saat itulah, Hou Yi menjadi pahlawan yang sangat dihormati rakyat, Kemudian Hou Yi menikahi seorang gadis cantik dan baik hati bernama Chang’e, pasangan ini saling mencintai dan hidup bahagia saat itu.

Banyak orang ingin mengikuti Hou Yi untuk belajar kepandaiannya, Suatu hari Hou Yi bertemu dengan Ibu Suri Raja Langit, Atas keberhasilannya, Raja menghadiahkannya sebotol minuman keabadian, yang bisa diminum Hou Yi  dan istrinya, agar mereka bisa berdampingan selamanya,  siapapun yang meminumnya  bisa terbang ke langit dan menjadi dewa.

Hou Yi tidak meminum obat itu karena tidak tega meninggalkan istrinya. akhirnya obat itu disimpan oleh Chang’e, Namun hal itu diketahui oleh Peng Meng, salah satu anak buahnya yang cukup jahat,  dia Ingin mencuri obatnya.

Suatu hari, ketika Hou Yi sedang berburu diluar, Peng Meng masuk ke kamar Chang’e dengan memegang pedang,  berniat untuk merebut obat panjang umur itu. Demi menjaga obat itu, Chang’e terpaksa menelat obat tersebut, kemudian , badan Chang’e tiba – tiba menjadi ringan dan mulai terbang ke langit, Saat pergi, Chang’e sempat menggenggam kandang kelinci peliharaannya.

Chang’e terbang ke bulan bersama kelincinya dan berubah menjadi Dewi Bulan, Konon sampai sekarang, kita masih bisa melihat kelinci tersebut saat Purnama tiba.

Setiba di rumah, Hou Yi sangat sedih mengetahui insiden itu, tapi penjahat Peng Meng telah kabur. Hou Yi melihat bulan sambil berteriak – teriak nama istrinya. Tiba- tiba bulan di langit sangat murni dan terang, seperti ada satu bayangan yang mirip istrinya. Dia mencoba mengejar bulan tapi tetap gagal.

Hou Yi menyesali kejadian itu, namun tak bisa mengubah keadaan, Hou Yi sudah putus ada, tapi tetap sangat merindukan istrinya,  dia menaruh meja di halaman belakang rumahnya, menyediakan banyak manisan, dan buah – buahan yang di sukai Chang’e. dia bersembahyang ke bulan, tempat Chang’e tinggal.

Untuk mengobati kerinduan, setiap tanggal 15 bulan ke-8, ia duduk minum teh dan menikmati kue sambil menunggu Chang Er menampakkan diri ketika bulan purnama.

Setelah Rakyat mengetahui Chang’e menjadi dewi di Bulan, maka mereka beramai – ramai menyediakan meja dengan sesajian untuk bersembahyang kepada Chang’e

Sejak saat itu, tradisi sembahyang bulan menjadi popular di Tiongkok.

Dongeng “Chang’e terbang ke bulan” adalah salah satu cerita yang paling popular di Negeri Tiongkok.

Dari Mitologi inilah, kue bulan dan festival pertengahan musim gugur atau festival kue bulan jadi hal istimewa.

Kue Bulan dipercaya sebagai symbol kemakmuran dan panjang umur yang perlu dilestarikan, dan hari suka cita yang dilambangkan dengan kehadiran bulan purnama penuh.

Pada tanggal 15 bulan ke 8 adalah suatu masa dimana bulan akan berada paling dekat dengan bumi, berdampingan dengan batas langit dan bersinar dengan warna  kemerahan. yang melambangkan bersatunya pria ( matahari) dan Wanita (bulan) seperti Yin dan Yang dalam tradisi Tiongkok.

Pada hari istimewa festival kue bulan, warga Tionghoa yang masih menjalankan tradisi akan berkumpul bersama keluarga sebagai momen tepat  untuk membagi kasih sayang sambil menikmati indahnya malam, melihat indahnya bulan dan  berbagi potongan  kue bulan dan  minum teh china, Ada juga yang  mengantarkan kue bulan kepada kerabat dan sahabat diiringi harapan baik bagi semua orang.

Selain itu, bentuk bulat kue juga memiliki makna, menurut Prof. Wei Shang dari Columbia University, “Bulat adalah Lambang Persatuan dari Keluarga”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares