Penanganan Kesehatan Jiwa Dan Mental Masyarakat Indonesia

Hari kesehatan Jiwa sedunia atau World Mental Health Day diperingati setiap tahunnya pada tanggal 10 Oktober, pertama kali diperingati pada tanggal 10 Oktober 1992

“Mengapa ada peringatan hari kesehatan jiwa” ?

Tujuan awalnya, secara umum mengkampanyekan advokasi kesehatan mental dan mendidik masyarakat tentang isu –isu yang relevan terkait kesehatan jiwa. Melalui peringatan ini, federasi membuka jalan mempromosikan kesehatan jiwa dan menciptakan kesadaran tentang isu- isu yang berhubungan dengan kesehatan mental.

Berdasarkan data WHO , bunuh diri terjadi setiap 40 detik sekali diseluruh dunia. Melalui Hari Kesehatan Jiwa Dunia , mengingatkan kita bahwa mengakhiri hidup dengan cara pintas bisa terjadi pada siapa  pun tanpa mengenal latar belakang social maupun kelompok usia.

Prevelensi orang Indonesia mengalami gangguan kesehatan jiwa ternyata tertinggi di Kawasan Asia Tenggara, namun kondisi kesehatan jiwa ini masih saja banyak disalahpahami sehingga penanganannya pun kerap tak tepat apalagi memadai.

“Apa Saja Pemahaman Masyarakat ?”

Ada pemahaman yang berkembang di masyarakat  yang beranggapan bahwa “mereka yang bertemu dokter jiwa mengalami gangguan jiwa” , karena ada pemahaman yang keliru antara dokter jiwa dengan psikolog.

Dokter Jiwa merupakan profesi yang kerap dikenal sebagai Psikiater, sementara Psikolog merupakan seseorang yang telah menempuh pendidikan S1 Psikologi terlebih dahulu.

Dokter JIwa adalah dokter umum ditambah dengan pendidikan  spesialisasi , dapat sertifikat dan beberapa mendapat pendidikan tambahan diluar negeri.

Dokter jiwa lebih focus pada intervensi gangguan jiwa mengenai pikiran, perasaan dan perilaku,  terutama yang berkaitan dengan fungsi otak.  Seperti seseorang dengan gangguan kecemasan, atau memiliki masalah pribadi bisa berkonsultasi dengan dokter jiwa. 

Jadi dokter jiwa menangani perasaan psikosomatis yang berhubungan dengan stress, dan gangguan fisik.

Pemahaman keliru lainnya bahwa orang yang sakit jiwa bisa diobati sendiri karena berkaitan dengan iman, anggapan lain bahwa  sakit jiwa bisa diatasi jika mengubah diri.

Padahal , seseorang yang tengah mengalami gangguan jiwa memerlukan psikiater untuk membantunya mengatasi masalah.

Anggapan lain dimasyarakat bahwa mendatangi psikiater bisa menyebabkan ketergantungan, dalam beberapa kasus, otak seseorang tidak bisa dkontrol sehingga membutuhkan pengobatan diantaranya menggunakan obat atau terapi magnet/elektrik.

Penyebab gangguan jiwa tidak dapat diketahui dengan pasti , namun dapat diketahui dengan menggali akar masalah yang terjadi pada seseorang seperti :

  1. Skizoprenia ada ketidakstabilan dopamine
  2. Depresi ada gangguan serotonin
  3. Kecemasan ada gangguan pada noradrenaline.

Ada beberapa hal yang bisa mempengaruhi kesehatan jiwa seseorang  seperti:

  1. Kegiatan  rutin sehari – hari  yang membuat bosan, kosong, hampa, meaningless, akan mempengaruhi kestabilan neurokimiawi atau neurotransmitter di otak, namanya burn out syndrome
  2. Lingkungan yang membuat kita waspada berlebihan, misalnya ketinggalan sesuatu yang membuat ketakutan atau barang tersebut akan hilang, padahal belum tentu terjadi (Pseudoparanoid community)
  3. Prasangka buruk terhadap seseorang yang belum dikenal.

Pemerintah Indonesia telah turut peduli dengan kondisi kesehatan jiwa masyarakat, pada tahun 2015 bersamaan dengan peringatan hari kesehatan jiwa sedunia , Kementerian Kesehatan RI telah meluncurkan aplikasi android, Sehat Jiwa yang dapat diunduh gratis oleh masyarakat melalui Playstore.

Laman resmi Sehat Jiwa merupakan sebuah aplikasi gratis dari Kementerian Kesehatan RI , untuk memberikan informasi mengenai kesehatan jiwa dan solusi yang mudah dan cepat dalam melaporkan atau mengecek apabila terdapat pasien kesehatan jiwa di sekitar masyarakat.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares